Katarak Tak Hanya Mengintai LANSIA

Setahun lalu badruddin 35 terkejut ketika ia memeriksakan mata ke dokter. Dalam usia tergolong produktif, ia telah dinyatakan menderita katarak. Selama ini penyakit yang membuat lensa mata keruh dan bisa mengakibatkan kehilangan penglihatan itu rata rata terjadi pada orang yang telah berusia 60 tahun ke atas.

Dokter pun heran dan mengira saya pernah kecelakaan pada mata atau operasi mata, saya jawab tak pernah, lalu dokter bertanya apakah saya punya diabetes?, lagi lagi saya jawab tidak “kata badrudin”.

Badruddin lalu diminta memeriksa kadar gula dalam darah, hasilnya kadar gula darah badruddin mencapai 280 mg / desiliter (mg/dl). Padahal kadar normal dalam kondisi puasa kurang dari 100 miligram per dl karyawan distributor lensa kacamata itu dinyatakan menderita diabetes.

Menurut direktur utama rumah sakit mata jakarta eye center dalam kurung JEC kedoya dr darwan m purba sabtu 9 agustus di jakarta. katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi buram karena cahaya sulit menembus lensa dan mencapai retina, bayangan yang ditangkap retina menjadi kabur.

Gejala umum katarak adalah lensa mata memburam mirip kaca susu dan penderita seperti terganggu kabut ketika melihat objek. Penderita juga lebih peka terhadap cahaya, membutuhkan cahaya terang untuk bisa membaca dan penglihatan pada satu mata kadang jadi 2 (ganda).

Kasus katarak kebanyakan akibat proses degeneratif (kemunduran seiring usia yang kian lanjut) gangguan mata itu umumnya menyerang orang berusia 60 tahun ke atas sehingga dianggap sebagai proses alami yang tak bisa dihindari.

Diabetes

Selain usia ada beberapa faktor yang mempercepat timbulnya katarak antara lain pemakaian steroid dampak operasi mata dan kecelakaan pada mata adapun diabetes merupakan faktor resiko paling umum yang mempercepat katarak, dari pengamatan kami penderita diabetes lebih cepat mengalami katarak dibandingkan yang tak punya diabetes “kata purba”, selain itu paparan sinar ultraviolet meningkatkan risiko terkena katarak terutama jika mata tanpa pelindung terpapar sinar matahari cukup lama, karena itu nelayan adalah pekerjaan beresiko tinggi kena katarak, nelayan terpapar sinar matahari dari pagi hingga sore saat melaut, akibatnya banyak nelayan katarak pada usia 35 tahun ujarnya.

Di indonesia menurut riset kesehatan dasar 2013 prevalensi katarak semua umur 1.8 persen terkait usia, persatuan dokter spesialis mata indonesia (PERDAMI) pada 2013 mencatat prevalensi kebutuhan akibat katarak yang tinggi pada kelompok usia lebih tua pada kelompok usia 45 sampai 59 tahun prevalensi kebutaan akibat katarak 20 kasus per 1000 orang adapun pada kelompok usia lebih dari 60 tahun 50 kasus per 1000 orang.

Beraam Teknologi

Sejauh ini operasi mata merupakan satu satunya jalan untuk sembuh dari katarak, selama ini operasi katarak terbukti hanya memiliki resiko komplikasi 1 persen meski dengan bedah pisau, namun jika takut dengan bedah pisau penderita kini punya pilihan untuk menghindari nya dengan teknologi laser, teknologi operasi katarak terus berkembang, teknologi pertama adalah operasi katarak manual terdiri dari bedah ekstraksi katarak intrakapsuler (ICCE) dan bedah ekstraksi katarak ekstrak kapsul (ECCE) pada ICCE dokter mengeluarkan lensa mata pasien tanpa memberi lensa tanam untuk mengganti, sehingga pasien terbantu melihat dengan memakai kacamata.

Dengan metode ECCE lensa tanam dimasukkan ke kapsul mata guna mengganti lensa yang katarak, pada kedua metode itu sayatan kornea nya dibuat sekitar satu sentimeter menyesuaikan dengan ukuran lensa dan perlu beberapa jahitan.

Minimal Invasif

Kemudian muncul teknologi fakoemulsifikasi. Dokter spesialis mata spesialis katarak klasik dan kornea jcc kedoya ucok pasaribu selasa 12 agustus mengatakan fakoemulsifikasi tetap memakai pisau untuk menyayat kornea, bedanya sayatan akan jauh lebih kecil dibandingkan operasi manual yakni 1.8 sampai 2 mm. Sayatan lebih kecil karena lensa mata tidak dikeluarkan, untuk lensa yang katarak dihancurkan lebih dulu dengan jarum tip yang terhubung ke mesin fakoemulsifikasi “kata uchok”.

Mesin itu memakai tenaga ultrasonik dengan frekuensi tinggi, dengan teknologi itu risiko infeksi akibat sayatan besar bisa diminimalkan, luka sayatan tak perlu dijahit.

 

Artikel kesehatan ini kami sadur dari harian kompas edisi rabu 13 agustus 2014, semoga bermanfaat, dan tetap jaga kesehatan.

Speak Your Mind

*